RMOL.Gangguan
tiroid jangan dianggap sepele. Tak jarang, beberapa pasien sudah
berkonsultasi ke berbagai dokter sebelum akhirnya ia diketahui memiliki
gangguan tiroid, baik itu hipertiroid, hipotiroid atau ada nodul
(benjolan) tiroid.
Pengobatan untuk pasien yang menderita gangguan tiroid seperti
hipertiroid tidak sama. Hanya 25-50 persen pasien hipertiroid yang bisa
sembuh pakai obat. Sisanya harus bolak-balik ke dokter untuk terus
berobat.
“Hanya 25-50 persen pasien hipertiroid yang betul-betul sembuh
sempurna dengan obat,” ujar spesialis penyakit dalam Prof Dr Johan S
Masjhur, SpPD-KEMD, SpKN dalam seminar “Waspadai Gangguan Kesehatan
Akibat Kelainan pada Kelenjar Tiroid” di Jakarta, Selasa (13/12).
Prof Johan menjelaskan, ada beberapa alternatif pengobatan yang
bisa dilakukan untuk mengatasi hipertiroid, yaitu menggunakan obat
anti tiroid, menggunakan yodium radioaktif, melalui pembedahan atau
operasi dengan mengangkat kelenjar tiroid dan targeted theraphy, menggunakan suatu zat untuk menghambat fungsi hormon tapi saat ini masih dalam tahap perkembangan.
Gangguan tiroid umumnya memiliki gejala yang beragam mulai dari
jantung berdebar hingga perubahan berat badan. Tak jarang pasien
gangguan tiroid kadang-kadang pergi ke berbagai dokter untuk
mengetahui penyakitnya.
“Sering kali salah masuk kamar atau diping-pong sana sini, hal ini
tentu merugikan pasien,” katanya. Gejala yang muncul dari gangguan
tiroid seperti denyut jantung yang tidak beraturan atau berdetak lebih
cepat sehingga ia perlu melakukan konsultasi ke dokter jantung,
perubahan pola buang air besar ia berkonsultasi ke dokter lain, lalu
adanya perubahan dalam berat badan pergi ke dokter gizi. Nodul tiroid
bisa tunggal atau lebih.
“Perlu diperiksa, apakah ada nodul ganas atau tidak. Jika memang
ganas, maka harus dilakukan pengangkatan agar tidak berubah menjadi
kanker tiroid,” jelas Prof Johan.
Gejala yang muncul untuk hipertiroid termasuk keringat berlebihan,
berat badan menurun, gemetaran, gelisah, tidak toleran terhadap panas,
mudah lelah, konsentrasi berkurang, mata melotot (seperti mau keluar)
dan menstruasi yang tidak teratur atau sedikit.
Gejala yang muncul untuk hipotiroid, termasuk depresi, kelelahan,
tidak toleransi terhadap dingin, kulit dan rambut yang kering,
tingkat kolesterol meningkat, denyut jantung menurun, konsentrasi
menurun dan rasa sakit atau nyeri yang samar-samar.
Sedangkan untuk nodul tiroid biasanya baru diketahui ketika seseorang
sedang mengaca dan menemukan adanya benjolan di leher bagian depan. Ia
menguraikan, pengobatan antitiroid berlangsung lama dan menahun.
“Karena sifat penyakit ini kronis, maka pengobatannya juga jangka
panjang dan bertujuan untuk mengendalikan aktivitas kelenjar tiroid,”
paparnya.
Johan menambahkan, 25-50 persen pasien yang berobat bisa mengalami
kesembuhan, tetapi sisanya terus mengalami kekambuhan. [Harian Rakyat
Merdeka]
Terima kasih atas informasinya.
BalasHapus