Selamat Datang di www.terapinarkoba.com

Kami berpengalaman menangani KECANDUAN NARKOBA dengan metode MULTI TERAPI Insya Allah kecanduan narkoba dapat di pulihkan dalam waktu relatif singkat, hanya 2 bulan, bukan 6 tahun.
Sudah banyak pasien yang kami tolong, baik dari jawa maupun luar jawa / luar kota

SAKAW dll cepat di pulihkan.

Prosedur Pemulihan kecanduan narkoba bisa RAWAT JALAN dan TERAPI JARAK JAUH pasien tidak harus datang, bisa tetap sekolah, kuliah atau bekerja

SUDAH REHAB TAPI ANDA MASIH KECANDUAN JANGAN RAGU HUBUNGI KAMI


TABIB MASRUKHI,MPA

Telp : 0823 3222 2009


GARANSI >>> klik disini

Catatan : Pecandu Narkoba sangat tergantung dengan peran serta orang tua / keluarga. Karena itu segera lah berobat sebelum semuanya terlambat, kematian atau cacat seumur hidup.

yang perlu di lakukan orang tua terhadap seorang anak pecandu Narkoba ?
1. Bila pecandu ingin Lepas dari ketergantungan narkoba maka segera di obati
2. Bila pecandu belum ada keinginan Lepas dari ketergantungan narkoba maka tetaplah motivasi untuk segera diobati atau setidaknya minum obat ramuan kami dengan harapan pasien merasakan manfaat nya selanjutnya ada kesadaran untuk di pulihkan secara tuntas.

Demikian semoga bermanfaat

Indonesia Bebas Narkoba 2015, Hanyalah MIMPI di Siang Bolong

Labels:


Visi Indonesia bebas narkotika pada 2015 diperkirakan SULIT TERCAPAI. Penyalahgunaan narkotika yang cenderung meningkat setiap tahun belum diimbangi dengan ketersediaan pusat terapi dan rehabilitasi memadai.

Survei Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir sekitar 3,4 juta atau 1,99% penduduk Indonesia terjerat dalam penyalahgunaan narkotika pada 2008. Angka tersebut melonjak menjadi 4,2 juta atau 2,2% penduduk Indonesia pada 2011.

Estimasi kerugian ekonomi akibat penyalahgunaan zat adiktif tersebut pada 2008 mencapai Rp48,2 triliun. Kerugian ini diperkirakan melesat menjadi Rp57 triliun pada tahun ini.

Sementara itu, di Indonesia baru terdapat sekitar 124 pusat terapi dan rehabilitasi narkotika. Rinciannya, 62 pelayanan berfasilitas rawat inat, 42 rawat jalan, dan 24 pelayanan berbasis komunitas. Keberadaan pusat terapi dan rehabilitasi tersebut masih jauh dari memadai.

"Penyalahgunaan narkotika merupakan penyakit. Tapi penderitanya justru menjauh dari dokter dan berpotensi menjadi masalah kriminal dan sosial," kata Asisten Ahli Deputi Rehabilitasi BNN Benny Ardjil di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (18/7).

Ia mengungkapkan, tantangan terberat dalam penanggulangan penyalahgunaan narkotika di Tanah Air ialah kuantitas dan kualitas petugas. Benny mengilustrasikan satu orang konselor saat ini rata-rata menangani 50 pasien. Padahal idealnya, satu konselor menangani tidak lebih dari 10 pasien.

"Baru sekitar 200 konselor yang mengikuti sertifikasi pada 2011. Sebelumnya tidak satu pun bersertifikat," ungkap mantan Deputi Rehabilitasi BNN itu.

Indonesia bebas narkotika merupakan bagian dari Visi Asean Bebas Narkotika 2015 yang dideklarasikan di Bangkok, Thailand pada 2000.  Pada 2007 visi tersebut dirumuskan menjadi  tujuh indikator pencapaian.

Indikator tersebut, di antaranya meningkatnya pasien yang masuk ke pusat terapi sebesar 10% setiap tahun. Begitu pula jumlah pusat terapi dan pasien yang menuntaskan program rehabilitasi, meningkat minimal 10% setiap tahun.

Selain itu, peningkatan kualitas petugas dan peran serta masyarakat dalam program terapi dan rehabilitasi. "Saya optimistis Indonesia bebas narkotika akan tercapai, sepanjang didukung semua sektor dan peran serta masyarakat," ucap Benny. (Aris Munandar)

Editor: Patna Budi Utam